Sabtu, 04 Februari 2012

Pengertian Kisah Dalam Al-qur'an


BAB I


PENDAHULUAN

Allah Swt, menurunkan al-Quran kepada Nabi Muhammad saw. Yang mengandung tuntutan-tuntutan bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan didunia dan akherat, serta kebahagiaan lahir dan batin. Selain menggunakan cara yang langsung, yaitu berbentuk-bentuk perintah dan larangan, adakalanya tuntutan tersebut disampaikan melalui kisah-kisah, dengan tujuan untuk menjelaskan bantahan terhadap kepercayaan-kepercayaan yang salah dan bantahan terhadap setiap bujukan untuk berbuat ingkar serta menerangkan prinsip-prinsip Islamiah dalam bentuk berdakwah. Kisah-kisah tersebut memakan tempat yang tidak sedikit dari keseluruhan ayat-ayat al-Quran, banyak pula surat yang dikhususkan untuk kisah semata, seperti surat Yusuf (18) al-Anbiya (21),al-Qoshas (28), dan surat Nuh (17). Dalam makalah ini penulis sedikit akan membahas tentang kisah-kisah al-Quran mulai dari definisi Qoshas itu sendiri dan lain sebagainya yang menyangkut tentang Qoshas al-Quran, tetapi penulis minta maaf apabila dalam penyusunan makalah ini banyak sekali kesalahdan ketimpangan materi, karena keterbatasan keilmuan dan referensi penulis.













BAB II


PEMBAHASAN

A. Pengertian Kisah Dalam al-Qur’an (Qashash)

Menurut bahasa kisah berasal dari kata Qashash jamak dari Qishah, artinya kisah, cerita, atau keadaan dan juga berasal dari kata al-Qashshu yang berarti mencari atau mengikuti jejak. Sedangkan menurut istilah Qashashul Quran ialah kisah-kisah dalam al-Qur’an tentang para NAbi dan Rasul mereka, serta peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau, masa kini, dan masa yang akan dating.

Dikatakan, qashashtu atsarahu artinya, “saya mengikuti atau mencari jejaknya” kata al-qashash berarti bentuk masdar, seperti firman Allah swt:
tA$s% y7Ï9ºsŒ $tB $¨Zä. Æ÷ö7tR 4 #£s?ö$$sù #n?tã $yJÏdÍ$rO#uä $TÁ|Ás% ÇÏÍÈ  
64. Musa berkata: "Itulah (tempat) yang kita cari". lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.(Qs. Al-Kahfi: 64)

Maksudnya, kedua orang dalam ayat itu kembali lagi ubtuk mengikuti jejak dari keduanya itu datang. Dan firman-Nya melalui lisan Ibn Musa.
ôMs9$s%ur ¾ÏmÏG÷zT{ ÏmÅ_Áè% ( ôNuŽÝÇt7sù ¾ÏmÎ/ `tã 5=ãZã_ öNèdur Ÿw šcrããèô±o ÇÊÊÈ  
11. dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan: "Ikutilah dia" Maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya,(Qs. Al-Qashash: 11)

Maksudnya, ikutilah jejaknya samapi kamu melihat siapa yang mengambilnya.

Qashash berarti berita berurutan. Firman Allah SWT:
¨bÎ) #x»yd uqßgs9 ßÈ|Ás)ø9$# ,ysø9$# 4 $tBur ô`ÏB >m»s9Î) žwÎ) ª!$# 4 žcÎ)ur ©!$# uqßgs9 âƒÍyèø9$# ÞOŠÅ3ysø9$# ÇÏËÈ  
62. Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah; dan Sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana .(Qs. Ali-Imran: 62)

Dan juga Allah berfirman dalam al-Qur’an yang berbunyi: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmad bagi kaum yang beriman”.

Sedangkan al-qishshah berarti urusan, berita, perkara, dan keadaan.

            Qashash al-Qur’an adalah pemberitaan al-Qur’an, tentang hal ihwal ummat yang telah lalu, nubuwat (kenabian) yang terdahulu dan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi. Al-Qur’an banyak mengandung keterangan tentang kejadian masa lalu, sejarah bangsa-bangsa, keadaan negeri-negeri dan peninggalan atau jejak setiap umat. Ia menceritakan semua keadaan mereka dengan cara yang menarik dan mempesona.
B. Karakteristik Kisah dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an tidak menceritakan kejadian dan peristiwa-peristiwa secara berurutan (kronologis) dan tidak pula memaparkan kisah-kisah itu secara panjang lebar. Al-Qur’an juga mengandung berbagai kisah yang diungkapkan berulang-ulang di beberapa tempat. Sebuah kisah terkadang berulang kali disebutkan disebutkan dalam Al-Qur’an dan dikemukakan dalam berbagai bentuk yang berbeda. Disatu tempat ada bagian-bagian yang didahulukan, sedang ditempat lain diakhirkan. Demikian pula terkadang dikemukakan secara ringkas dan kadang secara panjang lebar. Hal ini menimbulkan perdebatan dikalangan orang-orang yang meyakini dan orang-orang yang menentang dan meragukan Al-Qur’an. Mereka yang meragukan seringkali mempertanyakan, mengapa kisah-kisah tersebut tidak tersusun secara kronologis dan sistematis, sehingga lebih mudah dipahami.
Menurut Manna’Khalil Al-Qaththan, bahwa penyajian kisah-kisah dalam Al-Qur’an yang demikian itu mengandung beberapa hikmah, diantaranya :
Pertama
Menjelaskan Balaghah Al-Qur’an dalam tingkat paling tinggi. Kisah yang berulang itu dikemukakan disetiap tempat dengan ushlub yang berbeda satu dengan yang lain serta dituangkan dalam pola yang berlainan pula, sehingga tidak membuat orang merasa bosan, bahkan dapat menambah kedalam jiwanya makna-makna baru yang tidak di dapatkan di saat membacanya di tempat yang lain.
Kedua
Menunjukan kehebatan Al-Qur’an, sebab mengemukakan sesuatu makna dalam berbagai bentuk susunan kalimat dimana salah satu bentukpun tidak di tandingi oleh sastrawan Arab, merupakan dahsyah dan bukti bahwa Al-Qur’an itu murni datangnya dari Allah SWT.
Ketiga
Mengundang perhatian yang besar terhadap kisah tersebut agar pesan-pesannya lebih mantap dan melekat dalam jiwa. Hal ini karena pengulangan merupakan salah satu cara pengukuhan dan tanda betapa besarnya perhatian Al-Qur’an terhadap masalah tersebut. Misalnya kisah Nabi Musa dengan Fir’aun. Kisah ini mengisahkan pergulatan sengit antara kebenaran dan kebathilan.
Keempat
Penyajian seperti itu menunjukan perbedaan tujuan yang karenanya kisah itu di ungkapkan. Sebagian dari makna-maknanya diterangkan di suatu tempat, karena hanya itulah yang diperlukan, sedangkan makna-makna lainnya dikemukakan di tempat lain, sesuai dengan keadaan.

C. Tujuan Kisah dalam Al-Qur’an
Cerita dalam Al-Qur’an bukanlah suatu gubahan yang hanya bernilai sastra saja akan tetapi cerita dalam Al-Qur’an merupakan salah satu media untuk mewujudkan tujuan aslinya. Bagaimanapun juga Al-Qur’an adalah kitab dakwah dan kitab yang meyakinkan objeknya.
Kisah-kisah dalam Al-Qur’an secara umum bertujuan kebenaran dan semata-mata tujuan keagamaan. Jika di lihat dari keseluruhan kisah yang ada maka tujuan-tujuan tersebut dapat dirinci sebagai berikut :
Pertama
Salah satu tujuan cerita itu ialah menetapkan adanya wahyu dan ke-Rasulan. Dalam Al-Qur’an tujuan ini diterangkan dengan jelas diantaranya dalam Q.S. 12 : 2-3
“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya termasuk orang-orang yang belum mengetahui” (Q.S. Yusuf : 2-3)
Dan Q.S. 28 : 3. Sebelum mengutarakan cerita Nabi Musa, lebih dahulu Al-Qur’an menegaskan :
“Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir’aun dengan sebenarnya untuk orang-orang yang beriman”(Q.S. Al-Qashash : 3).
Dalam Q.S. 3 : 44, pada permulaan diceritakan Maryam disebutkan :
“Itulah berita yang ghaib, yang Kami wahyukan kepadamu.”9(Q.S. Ali Imran : 3)


Kedua
Menerangkan bahwa agama dari Allah, dari masa Nabi Nuh sampai dengan masa Nabi Muhammad SAW, bahwa kaum muslimin semuanya merupakan satu ummat, bahwa Allah yang Maha Esa adalah Tuhan bagi semuanya (Q.S. 21 : 51 – 92)
Ketiga
Menerangkan bahwa agama itu semua dasarnya satu dan itu semuanya dari Tuhan Yang Maha Esa (Q.S. 7 : 59)
“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata : “Wahai kaumku senbahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya. “Sesungguhnya (kalu kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab yang besar (hari kiamat).”(Q.S. Al-A’raf : 59)
Keempat
Menerangkan bahwa cara yang ditempuh oleh Nabi-nabi dalam berdakwah itu satu dan sambutan kaum mereka terhadap dakwahnya itu juga serupa (Q.S. Hud : 17)
“Sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.”
Kelima
Menerangkan dasar yang sama antara agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad dengan agama Nabi Ibrahim As, secara khusus, dengan agama-agama bangsa-bangsa Israil pada umumnya dan menerangkan bahwa hubungan ini lebih erat daripada hubungan yang umum antara semua agama. Keterangan ini berulang-ulang disebutkan dalam cerita Nabi Ibrahim, Musa dan Isa AS.


D. Relevansi Kisah dengan Sejarah
Kisah-kisah dalam Al-Qur’an merupakan karya seni yang tunduk kepada daya cipta dan kreatifitas yang dipatuhi oleh seni, tanpa harus memeganginya sebagai kebenaran sejarah. Ia sejalan dengan kisah seorang sastrawan yang mengisahkan suatu peristiwa secara artistik. Bahwa Al-Qur’an telah menciptakan beberapa kisah dan ulama-ulama terdahulu telah berbuat salah dengan menganggap kisah Qur’ani ini sebagai sejarah yang dapat dipegangi.
Kisah-kisah yang ada dalam Al-Qur’an tentu saja tidak dapat dianggap semata-mata sebagai dongeng, apalagi Al-Qur’an adalah kitab suci yang berbeda dengan bacaan lainnya. Memang sering timbul perdebatan, apakah kisah-kisah tersebut benar-benar memiliki landasan historis atau sebaliknya ?, sebagai kisah yang historis sejauh manakah posisi Al-Qur’an dalam memandang sejarah sebagai suatu realitas ?
Sebagai kitab suci, Al-Qur’an bukanlah kitab sejarah sehingga tidak adil jika Al-Qur’an dianggap mandul hanya karena kisah-kisah yang ada didalamnya tidak dipaparkan secara gamblang. Akan tetapi berbeda dengan cerita fiksi, kisah-kisah tersebut tidak didasarkan pada khayalan yang jauh dari realitas.
Melalui studi yang mendalam, diantaranya kisahnya dapat ditelusuri akar sejarahnya, misalnya situs-situs sejarah bangsa Iran yang di identifikasikan sebagai bangsa ‘Ad dalam kisah Al-Qur’an, Al-Mu’tafikat yang di identifikasikan sebagai kota-kota palin, Sodom dan Gomorah yang merupakan kota-kota wilayah Nabi Luth.
Kemudian berdasarkan penemuan-penemuan modern, mummi Ramses II di sinyalir sebagai Fir’aun yang dikisahkan dalam Al-Qur’an. Disamping itu memang terdapat kisah-kisah yang tampaknya sulit untuk di deteksi sisi historisnya, misalnya peristiwa Isra’ Mi’raj dan kisah Ratu Saba. Karena itu sering di sinyalir bahwa kisah-kisah dalam Al-Qur’an itu ada yang historis ada juga yang a-historis.
Meskipun demikian, pengetahuan sejarah adalah sangat kabur dan penemuan-penemuan arkeologi sangat sedikit untuk dijadikan bahan penyelidikan menurut kacamata pengetahuan modern, misalnya mengenai raja-raja Israil yang dinyatakan dalam Al-Qur’an.
Karena itu sejarah serta pengetahuan lainnya tidak lebih merupakan sarana untuk mempermudah usaha untuk memahami Al-Qur’an.
E. Jenis-jenis Kisah Dalam al-Qur’an[1]

Kisah-kisah dalam al-Qur’an dapat dibagi menjadi beberapa macam, yaitu:
a. Dari segi waktu

            Ditinjau dari segi waktu kisah-kisah dalam al-Qur’an ada tiga, yaitu:

1. Kisah hal gaib yang terjadi pada masa lampau
Contohnya:
            a) Kisah tentang dialog malaikat dengan Tuhannya mengenai penciptaan khalifah di bumi sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an Surah al-Baqarah: 30-34. yang berbunyi:
            øŒÎ)ur tA$s% š/u Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ÎoTÎ) ×@Ïã%y` Îû ÇÚöF{$# ZpxÿÎ=yz ( (#þqä9$s% ã@yèøgrBr& $pkŽÏù `tB ßÅ¡øÿム$pkŽÏù à7Ïÿó¡our uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur ßxÎm7|¡çR x8ÏôJpt¿2 â¨Ïds)çRur y7s9 ( tA$s% þÎoTÎ) ãNn=ôãr& $tB Ÿw tbqßJn=÷ès? ÇÌÉÈ   zN¯=tæur tPyŠ#uä uä!$oÿôœF{$# $yg¯=ä. §NèO öNåkyÎztä n?tã Ïps3Í´¯»n=yJø9$# tA$s)sù ÎTqä«Î6/Rr& Ïä!$yJór'Î/ ÏäIwàs¯»yd bÎ) öNçFZä. tûüÏ%Ï»|¹ ÇÌÊÈ   (#qä9$s% y7oY»ysö6ß Ÿw zNù=Ïæ !$uZs9 žwÎ) $tB !$oYtFôJ¯=tã ( y7¨RÎ) |MRr& ãLìÎ=yèø9$# ÞOŠÅ3ptø:$# ÇÌËÈ   tA$s% ãPyŠ$t«¯»tƒ Nßg÷¥Î;/Rr& öNÎhͬ!$oÿôœr'Î/ ( !$£Jn=sù Nèdr't6/Rr& öNÎhͬ!$oÿôœr'Î/ tA$s% öNs9r& @è%r& öNä3©9 þÎoTÎ) ãNn=ôãr& |=øxî ÏNºuq»uK¡¡9$# ÇÚöF{$#ur ãNn=÷ær&ur $tB tbrßö7è? $tBur öNçFYä. tbqãKçFõ3s? ÇÌÌÈ   øŒÎ)ur $oYù=è% Ïps3Í´¯»n=uKù=Ï9 (#rßàfó$# tPyŠKy (#ÿrßyf|¡sù HwÎ) }§ŠÎ=ö/Î) 4n1r& uŽy9õ3tFó$#ur tb%x.ur z`ÏB šúï͍Ïÿ»s3ø9$# ÇÌÍÈ  

Tidak ada komentar: