Sabtu, 04 Februari 2012

Fakta Penciptaan Alam Semesta


BAB I

PENDAHULUAN
Telah banyak penerbit yang menjelaskan tentang fakta penciptaan alam semesta yang ditulis oleh banyak ahli maupun dari kalangan ulama’ masyur sendiri untuk menafsirkan ayat-ayat suci al-Qur’an yang merupakan garis-garis besar ajaran Islam-dengan mengunakan ayat-ayat lain di dalam kitab suci tersebut, sebagai bandingan, dan dengan Sunnah Rasul sebagai penjelas. Dalam menafsirkan al-Qur’an itu pun, para ahli mendekati al-Qur’an dengan pendekatan yang terkategorisasi menjadi dua wilayah yaitu pendekatan kontradiktif dan pendekatan asosiatif. Artinya, dalam penelitian yang dikembangkan oleh para ahli hanya mencakup dua pendekatan dengan proporsinya yang berbeda-beda.
Dan penelitian-penelitian yang dikembangkan oleh beberapa kalangan banyak melahirkan konklusi ilmiah yang berbeda-beda. Bahkan bukan merupakan suatu keanehan bila sebagian besar ilmuwan ber­pendapat bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dengan kode-kode tertentu–struktur bilangan tertentu.[1] Alam sendiri mcngajarkan kepada manusia tentang adanya periode-periode tertentu yang selalu berulang, terstruktur dan sistematis, misalnya, orbit Bulan, Bumi dan planet-planet, lintasan meteorit dan bintang-bintang, DNA, kromosom, sifat atom, lapisan bumi dan atmosfer, dan elemen kimia dengan segala karakteristiknya.
Dalam pandangan al-Qur’an, tidak ada peristiwa yang ter­jadi secara kebetulan. Semua terjadi dengan “hitungan”, baik dengan hukum-hukum alam yang telah dikenal manusia maupun yang belum. Dalam al-Qur’an sendiri disebutkan di surat Aj-Jinn (72) ayat yang ke-28:
zOn=÷èuÏj9 br& ôs% (#qäón=ö/r& ÏM»n=»yÍ öNÍkÍh5u xÞ%tnr&ur $yJÎ/ öNÍköys9 4Ó|Âômr&ur ¨@ä. >äóÓx« #OŠytã ÇËÑÈ  
Artinya:”Supaya Dia mengetahui, bahwa Sesungguhnya Rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu”. (QS. Aj-Jinn (72): 28)





BAB II



PEMBAHASAN

A. Alam Semesta Jamak - al-Aalamin

Di dalam Al Qur'an Allah menyebutkan penciptaan lebih dari satu alam atau alam jamak. Di dalam surat Al Fatihah ayat ke-2 disebutkan kata "al-aalamin " šúüÏJn=»yèø9$ .yang merupakan bentuk jamak dari kata Bahasa Arab "alam". Para teolog umumnya menyebutkan alam secara umum sebagai sesuatu selain Allah. Jadi berarti jamak. Sedangkan alam menurut para filosof adalah kumpulan jauhar yang tersusun dari materi dan bentuk yang ada di bumi dan di langit.

Jadi alam fisik. Dalam pengertian sains modern, berarti para filosof memaknai alam sebagai segala sesuatu yang berada di dalam kontinuum ruang-waktu fisikal.

Uraian lengkap mengenai makna kata al-aalamin berikut ini dikutip tafsir Al Mishbah karya M. Quraish Shihab : "Kata Aalamin adalah bentuk jamak dari kata alam. Ia terambil dari akar kata yang sama dengan ilmu atau alamat (tanda). Setiap jenis makhluk yang memiliki ciri yang berbeda dengan selainnya, maka ciri tersebut menjadi alamat/tanda baginya, atau dia menjadi sarana/alat sebagai sarana untuk pengetahuan tentang wujud Sang Pencipta. Dari sini kata tersebut biasa dipahami dalam arti alam raya atau segala sesuatu selain Allah." [2]

Dalam memodelkan relasi antara Allah, alam semesta, dan manusia secara integralistis yang sudah saya uraikan sebelumnya, maka kalimat "alam fisik dan non fisik" yang saya maksud adalah yang sesuai dengan makna kata bahasa Arab "al-aalamin" yaitu bentuk jamak dari kata "alam" (bahasa Arab) . Dengan kata lain, alam itu lebih dari satu baik yang fisik maupun non fisik. 

B. Alam Semesta Jamak : Tatanan 7 Langit-Bumi

Sains modern, dalam melakukan pengkajian alam semesta lebih cenderung menggunakannya dalam pengertian fisik atau di dalam kontinuum ruang-waktu. Jadi pengertian alam semesta secara sains adalah alam yang dapat menjadi sarana bagi makhluk berakal dengan melalui tanda-tanda atau fenomenanya yang tertangkap semua jenis indera-indera alamiahnya maupun peralatan buatannya untuk mengenal Allah. Oleh karena itu dalam kajian sebelumnya saya katakan bahwa saya lebih setuju kalau kontinuum ruang-waktu fisikal dipahami secara menyeluruh sebagai kontinuum kesadaran  diri-ruang-waktu (pikiran-ruang-waktu). Dengan kata lain, ada aspek-aspek psikologis dan metafisis selain aspek fisis karena adanya peran manusia dalam memahami alam semesta sebenarnya cenderung psikologis bukan mekanis. Apalagi dalam perspektif penciptaan dimana manusia  sejatinya menjadi rujukan utama bagi semua  penciptaan makhluk lainnya.  

Menurut analisis Sirajuddin Zar , al-aalamin di  dalam Al Qur'an sendiri tercantum di dalam  beberapa ayat dan mempunyai makna yang  bermacam-macam tergantung dari konteks ayat  tersebut. Misalnya al-aalamin di dalam QS 2:47 dan  QS 2:122 dapat dimaknai sebagai umat manusia  atau pada QS 3:96 dimaknai sebagai manusia.  Sedangkan pada QS 12:104, 38:87, 68:52, 81:27  istilah zikr li al-aalamin dapat diartikan sebagai  bangsa manusia dan jin. Jadi, pengertian al-aalamin  tidak dapat digunakan sebagai alam semesta atau  dalam bahasa Inggris universe . Namun, kata ini  dapat dibenarkan bila dimaksudkan untuk  menunjukkan banyaknya alam yang dipelihara  Tuhan dimana sebagian darinya tidak diketahui oleh manusia (QS 16:8). Di dalam surat Fushshilat [41] :  12 Allah secara lebih tegas lagi menyebutkan  bahwa terdapat tujuh langit[3]:  
£`ßg9ŸÒs)sù yìö7y ;N#uq»yJy Îû Èû÷ütBöqtƒ 4ym÷rr&ur Îû Èe@ä. >ä!$yJy $ydtøBr& 4 $¨Z­ƒyur uä!$yJ¡¡9$# $u÷R9$# yxŠÎ6»|ÁyJÎ/ $ZàøÿÏmur 4 y7Ï9ºsŒ ㍃Ïø)s? ̓Íyèø9$# ÉOŠÎ=yèø9$# ÇÊËÈ  

Tidak ada komentar: